Disable Preloader
12 Nilai Dasar Perdamaian untuk Generasi Muda

12 poin penting kurikulum perdamaian berdasarkan buku 12 nilai dasar perdamaian karya Erik Lincoln dan Irfan Amalee 


1. Menerima Diri Sendiri

Peace generation lahir dari kepedulian akan anak-anak muda yang belum memiliki gambaran diri yang utuh(self image) tentang siapa dirinya, mengapa ia lahir dikeluarga tertentu, mengapa ia bersekolah di sekolah-sekolah tertentu dan mau jadi apa kelak dia nanti. karena hal inilah maka anak-anak mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitar, tayangan televisi dan lingkungan sekitarnya. tampa pengertian yang jelas akan gambaran dirinya yang utuh, maka itu adalah awal kehancuran diri.mereka tidak akan segan-segan mencoba hal-hal yang terlarang bagi diri mereka sendiri.

Tanpa adanya gambaran diri anak-anak akan merasa tidak berharga dalam hidup mereka. oleh karena itu peace generation mengeluarkan buku pertama yang berjudulkan “bangga jadi diri sendiri” yang mengarahkan anak-anak muda untuk melihat bahwa diri mereka berharga, karena tuhan menciptakan kita pada awalnya itu sangat luar biasa . tanpa adanya pengertian ini, maka mereka  akan tetap memiliki gambaran diri yang rusak,rapuh,dan membenci diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar.

Buku 1: Self Acceptance: “Aku Bangga Jadi Diri Sendiri” ( I am proud to be myself)
Each person is a valuable creation of God with strengths and weaknesses. Understanding and accepting yourself is the starting point of accepting others


2. Prasangka dan curiga

Mau tidak mau kita semua dicemarkan oleh prasangkaa dan curiga terhadap satu sama lain. buku kedua peace generation memberikan pengertian bahwa prasangka dan curiga hanya akan membawa kita pada dosa dan melanggar aturan agama.

prasangka ( Prejudice/pre-judge) atau menghukum seseorang sebelum tahu fakta yang sebenarnya. oleh karena itu jangan menilai seseorang dari penampilanya atau suatu budaya hanya dari sinetron/tayangan televisinya.

Buku 2: Prejudice: “No Curiga, No Prasangka”
(No stereotyping, no prejudice)
Don’t judge a person as member of a group but as an individual. Use X-ray vision to see the heart not the exterior of a person


3. Keagekaragaman suku

Tuhan sangat menyukai keanekaragaman, oleh karena itu ia menciptakan suku dan banggsa yang berbeda-beda dan bahasa yang berbeda-beda. ia adlah adil dan mahakuasa dan segala yang tuhan ciptakan itu baik. tidak ada satupun suku yang lebih baik dari suku lain. semua sama derajatnya dan sama tingginya. memang wajar jika ada kelemahan, tidak ada satu suku yang sempurna. tetapi dengan ketidaksempurnaan serta kelebihan da kekurangan itulah maka kita harus belajar satu sama lain.

Buku 3: Racism:
“Beda Kebudayaan Tetap Berteman” (Different cultures still friends)
Resist the temptation to think negatively of people that are different from you. Choose to learn from cross-cultural relationships and see the value of others.


4.  Keberagaman agama

Peace generation adalah buku yang netral dan tidak berpihak pada satu atau suatu agama ataupun suatu kepercyaan tertentu. tetapi buku ini tidak berbicara mengenai persamaan,tetapi diversity. kita semua harus setuju bahwa agama tidak bisa disatukan, ada hal-hal yang doktrindan memang tidak bisa  diubah satu sama lain, dan tidak boleh adanya paksaan agar orang lain mengikuti ajaran dan agamanya. penganut agama ditentukan bisa saja mengatakan bahwa agamanya lah yang paling terbaik dan paling suci. itu adalah hal yang sah dan wajar, akan tetapi  untuk membuktikannya tidak cukup dengan hanya berkata-kata tetapi  dari cara hidupnya dan perbuatannya dan kehidupan yang layak diteladani. banyak permasalahan diindonesia seperti krisis eknonomi,politik dan bernegara dikaitu-kaitkan dengan permasalahan agama , dan hal ini tidak seharusnya terjadi. karena hal itu akan mencoreng agama dan sama sekali tidak mencerminkan akan aturan-aturan agama tersebut.

Buku 4 : Religious Tolerance:                                                                                                                        

“Beda Keyakinan Nggak Usah Musuhan” (Different beliefs don’t have to result in enemies)Differences in religion should be addressed peacefully and respectfully. There are many similarities in religions but also significant differences. Address those differences through thoughtful dialogue and a lifestyle that convinces others. Never use force to convert others.


5. Perbedaan status gender

perbedaan status(jenis kelamin) Juga menjadi perhatian dari peace generation,bagaimana tidak terlalu banyak orang yang melakukan pelecehan secara pikiran, perkataan dan seksual, serta melakukan tindakan kekerasan hanya karena berfikiran bahwa wanita adlah manusia yang paling lemah. begitu juga dengan laki-laki sering kali ditipu secara perasaan, dipermainkan dan menyakiti dengan kata-kata. peace generation mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang  sama hanya saja berbeda peranan dalam kahidupan. inilah yang diajarkan dari peace generation.

Buku 5: Sexism:
Laki-laki Perempuan sama-sama Manusia” (Both males and females are human)
Both girls and boys are created by God as equals with different roles. Build relationships of respect and honor between the sexes. Learn from each other while guarding appropriate distance.


6.  Status Ekonomi

Status ekonomi pu sering kali menjadi penyebab terjadinya konflik-konflik. kaya dan miskin adalah hal yang lumlrah. hanya saja bagaimana cara menyikapi dengan afir dan bijaksana. Orang miskin jarang minder sehingga menjadi malas bekerja, dan orang kaya jangan sombong agar tidak mudah melecehkan perasaan orang lain.

Buku 6: Wealth and Poverty:
“Kaya Nggak Sombong Miskin Nggak Minder” (Wealthy not proud, poor not insecure)
A person’s value is not determined by their wealth. We must treat people of all economic classes equally while understanding that both the rich and the poor face temptations.


7.  Nge-Genk

Kelompo-kelompok ekslusif. mungkin awalnya tidak menjadi masalah tetapi ketika sudah menjadi besar dan tidak ter-manage dengan baik maka kelompok-kelompok tersebut akan menjadi suatu ancaman bagi masyarakat. mungkin hanya masalah-masalah sepele, tetapi itu memiliki potensi untuk menjadi kekacauan massa. Banyak anak-anak merasa tidak diterima disuatu perkumpulan, sehingga mereka membentuk kelompok baru yang bisa menandingi kelompok yang membuatnya sakit hati dan ujung-ujungnya adalah sebuah perkelahian, caci maki dan konflik. Peace generation mengajarkan agar anak-anak muda tidak ikut-ikutan dalam genk atau perkumpulan eksklusif.

Buku 7: Gangs and Cliques: “Kalau Gentleman Nggak Usah Nge-gank” (If you are a gentleman, you don’t need to be in a gang)
Exclusive groups lead us to negative behavior and broken relationships. Understand the causes and results of gangs and cliques. Include others and resist seeking acceptance by joining unhealthy groups.


8.  Perbedaan

Dunia ini diciptakan dengan bermacam-macam warna, rupa,wujud, dan hal-hal yang unik. dan semua menjadi sebuah kesukaan dari pada Tuhan. melecehkan perbedaan berarti meleehkan kreatifitas sang pencipta. tanpa adanya perbedaan artinya hanya ada  suatu hal yang monoton dan membosankan.

Buku 8: Diversity:
“Indahnya Perbedaan” (The beauty of diversity)
God is creative and made us different so that the world would be interesting and beautiful. Unity is not found in uniformity but in respectful acceptance of differences.


9. Menyelesaikan konfik

cara menyelesaikan konflik yangbaik adalah dengan cara melupakannya, tetapi jika sukar dilupakan maka lebih baik kita mengadakan pertemuan 4 mata dan jika masih sulit untuk menyelesaikannya maka bawalah orang ketiga yang netral untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.

Buku 11: Understanding Conflict:
“Konflik Bikin Kamu Makin Dewasa” (Conflict makes you more mature)
Conflict is inevitable. It can either destroy relationships or lead to maturity and deeper friendships. There are 9 possible responses to conflict. Choose those that lead to peace.


10. Kekerasan

Kekerasan tidak pernah membuat permasalahan menjadi baik. kekerasan hanya akan melahirkan suatu permasalahan yang lebih rumit dan lebih sulit. tidak ada gunanya subuah kekerasan. marah itu wajar , tetapi marah dengan kekerasan akan membuat kita semakin jauh dengan orang lain dan tidak ada seorang pun yang mengasihi kita  dengan sungguh-sungguhtetapi karena takut.

Buku Violence 9:
“Pake Otak! Jangan Maen Otot” (Use your brains not your muscles)
You can never solve problems with violence, it only makes matters worse. The rejection of violence is necessary to resolve conflict.


11. Mengaku salah

Setiap agama mengajarkan agar kita mengakui kesalahan-kesalahan yang kita lakukan tanpa adanya pengakuan makan kemarahan kita, kesalahan kita akan menjadi sebuah dosa. dosa adalah mengetahui bahawa kita melakukan kesalahan dan tidak berusaha untuk mengakuinya dihadapan tuhan dan dihadapan manusia. gengsi mengakui kesalahan berarti membiarkan dosa kita bersarang didalam hari dan pikiran kita.

Buku 11 Asking for forgiveness:
“Nggak Gengsi Ngaku Salah” (Not to proud to admit wrongdoing)
Admitting wrongdoing and asking for forgiveness is critical in resolving conflict. A true repentance is deep and includes a change of behavior.
Both girls and boys are created by God as equals with different roles. Build relationships of respect and honor between the sexes. Learn from each other while guarding appropriate distance.


12. Mengampuni dan memafkan

Mengampuni adalah hukum tertinggi yang pernah ada. tidak ada kekuatan yang sebesar pengampunan. pengamounan adalah melepaskan sesuatu kesalahan tanpa menginginkan pembalasan dendam. karena pembalasan dendam adalah hak Tuhan.

banyak sekali kesalahpahaman tentang mengampuni, banyak kita berfikir bahwa  saya akan mengampuni kitika hati saya sudah merasa enak. kesalahan kedua, adalah saat kita langsung melupakan apa yang terjadi pada kita. keslahan yang ketiga, adalah memaafkan sama dengan mengatakan tidak ada masalah. kesalahan keempat, maafkan berarti menjamin bahwa kita tidak akan lagi tersakiti.maafkan itu berarti :

  1. berfirkir yang positif
  2. tidak menyakiti dengan memakan kesalahan yang lalu
  3. tidak menceritakannya kepada orang lain(membeberkan kesalahan)
  4. kembali memiliki hubungan yang pulih

Buku 12 Forgiving Others:
“Nggak Pelit Memberi Maaf” (Not stingy in giving forgiveness)
Forgiveness is a choice and is the road to peace. True forgiveness has four promises included in it. “I won’t use this to hurt you in the future, I will choose to think positively about you, I won’t talk about this with others, and I will strive to be in relationship with you”



Share: