Disable Preloader
Indonesia Bersaing dengan Thailand di Industri Otomotif

Industri otomotif Indonesia terus bersaing dengan industri dari Vietnam dan Thailand.

Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Kukuh Kumara mengatakan, industri otomotif dalam negeri terus bersaing dengan industri dari negara tetangga, seperti Vietnam dan Thailand, untuk mendapatkan investasi dari perusahaan prinsipal. 

Kalau upah buruh di Indonesia terus meningkat, lanjut dia, principal otomotif bisa memilih memindahkan investasi ke negara lain. Apalagi, investasi prinsipal juga dipermudah oleh berbagai perjanjian dagang bebas antarnegara. 

“Kalau produksi dipindah ke sana, itu tidak akan kembali ke sini, nggak akan jadi di sini. Kalau sampai dipindahkan ke sana, kita bicaranya sudah bukan lagi meningkatkan utilisasi, tapi kita kehilangan peluang menciptakan lapangan kerja,” ucap Kukuh ketika dihubungi Investor Daily, Sabtu (1/5).

Kukuh mencontohkan, upah minimum Indonesia empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan India. Upah minimum di India, lanjut dia, menjadi salah satu alasan mengapa produsen mobil listrik terbesar di dunia, Tesla, akhirnya memilih berinvestasi di sana.

Karena itulah, buruh perlu bekerja sama dengan pelaku usaha mempertahankan utilisasi pabrik yang sempat turun lantaran terdampak pandemi Covid-19. 

Kukuh melanjutkan, pada Maret 2021, produksi mobil sudah mencapai 85.000 unit per bulan karena adanya insentif keringanan pajak signifikan yang diberikan pemerintah kepada sejumlah produk kendaraan roda empat yang memenuhi syarat.

Meski sudah meningkat dibandingkan bulan sebelumnya dengan produksi hanya 49.000 unit per bulan, produksi tersebut belum menyentuh jumlah sebelum pandemi Covid-19, dengan rata-rata produksi per bulan mencapai 90.000 unit.

Padahal, Kukuh menegaskan, apabila dalam setahun produksi mobil di Indonesia mencapai 1 juta unit pun, utilisasi pabrik baru 54%. 

Saat ini, ucap Kukuh, pelaku usaha juga sudah mulai mempekerjakan kembali karyawan yang sempat dirumahkan karena pandemi Covid-19. Hanya saja, pelaku usaha kini lebih berhati- hati untuk memastikan karyawan yang dipekerjakan sehat dan bebas dari Covid-19. 

Karena itu, pengusaha perlu waktu untuk bisa sepenuhnya mempekerjakan kembali buruh yang sempat dirumahkan.

“Sekarang isunya kan orang lebih berhati-hati, tidak secepat seperti sebelum ada pandemi Covid-19. Pasti orang di-screening lagi, kesehatannya bagaimana, nah itu perlu waktu juga,” ucap Kukuh.

Sementara itu, pekan lalu, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Elektronika (Gabel) Daniel Suhardiman mengatakan, industri elektronika terancam tidak kembali pulih paruh pertama tahun ini kendati penjualan sudah terpantau tumbuh. 

Ia mengatakan sebelumnya, kinerja industri elektronika masih belum membaik signifikan pada kuartal I-2021. Hal itu dikarenakan cuaca yang buruk yang berakibat banjir di sejumlah lokasi, sehingga mengganggu penjualan. 

Meski begitu, Gabel melihat mulai kuartal II-2021 utilisasi sudah menunjukkan perbaikan, menuju posisi sebelum pandemi di tahun 2019. Kendala lain, lanjut dia, adalah melonjaknya harga bahan baku yang sudah di luar kendali produsen

Produsen akhirnya terpaksa harus menaikkan harga jual mulai April lalu, sehingga dikhawatirkan akan berdampak menurunkan permintaan mulai Mei ini. 

Sebelumnya, Ketua Umum Gabel Oki Widjaya mengatakan, industri elektronika dan alat-alat rumah tangga turun sekitar 40% tahun lalu, dibandingkan tahun 2019.

Oki menyebut, hanya sekitar 60% dari kapasitas terpasang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar.  Penjualan Residensial Menguat Di sektor properti, penjualan residensial sepanjang triwulan I-2021 menguat dibanding periode sama 2020. 

Penguatan tersebut tidak terlepas dari program stimulus di bidang properti yang diberikan pemerintah, seperti pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk hunian di bawah Rp 2 miliar.

Selain itu, ada kebijakan relaksasi loan to value (LTV) yang memungkinkan uang muka (down payment/DP) sebesar 0%. Menguatnya penjualan residensial itu salah satunya terlihat dari pendapatan usaha yang dikantongi PT Puradelta Lestari Tbk sepanjang triwulan I-2021. 

Mengutip laporan keuangan perseroan yang dirilis, Rabu (28/4), pendapatan Puradelta dari lini perumahan, per akhir Maret 2021, melonjak 456,53%, yakni dari Rp 16,45 miliar menjadi Rp 91,55 miliar. 

“Permintaan lahan industri dari sektor otomotif dan turunannya, serta pusat data, masih cukup tinggi saat ini,” ujar Tondy Suwanto, direktur PT Puradelta Lestari Tbk, dalam siaran pers, Rabu (28/4). (Investor.id/ed/dho/tl/ac/pd/en)


Share: